Saturday, August 17, 2013

MAN & MOON (Dua)



BAB DUA


Selalu begitu setiap pagi. Segera, setelah ayahnya pergi ke Sanggar Aksara, Rien juga bersiap pergi ke kantor. Rien sudah rapi mengenakan seragam kerja. Saat duduk sarapan di meja belakang, ia dihampiri ibunya.


“Selalu saja Ayahmu mengkritik pekerjaanmu,” kata Muna sambil menuangkan air minum untuk Rien.
 “Kemarin dia mengomel tak habis-habis. Pagi ini masih juga dia mengomel. Ibu serba salah dengan sudut pandang Ayahmu. Ibu berharap kamu berbeda, tapi dia berkeras kamu jadi penulis sepertinya.”
Rien meneguk air yang baru disiapkan ibunya. Piring sarapan yang sudah kosong didorongnya ke depan. Lalu ia palingkan perhatian ke wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya. “Ibu tak perlu khawatir,” katanya sambil menatap lekat ke wajah ibunya. “Kadang-kadang Ayah memang pandai sekali meraba keadaanku dan menghubung-hubungkannya dengan sudut pandang yang dia ketahui tentang pekerjaanku. Beberapa lembaga pembiayaan memang bukan tempat yang baik untuk perempuan. Tapi bukan tipeku bersikap lemah. Seperti yang Ibu harapkan, apapun yang terjadi, aku akan terus bertahan di sini. Meskipun aku perempuan, aku tak pernah takut pada pria manapun.”

Muna sempat terdiam. Ada perasaan yang mengganggunya. “Menurutmu sendiri bagaimana?” kata perempuan itu kemudian. Di wajahnya terbersit kegundahan. “Ibu sebetulnya tidak tahu persis seperti apa lembaga pembiayaan itu, Rien.”

Sinar mata Rien meredup. Tapi ia tak ingin menceritakan apapun pada ibunya, bagaimana gejolak dalam pekerjaannya sekarang, bahwa setiap hari rasanya ia ingin menghantam orang. Ia tak ingin mengecewakan perempuan itu. Biarlah ibunya tahu yang baik-baik saja. Apalagi ia tahu ibunya banyak berharap. Nampak jelas di mata sang ibu bagaimana ia bangga atas pekerjaan yang baru lima bulan dijalaninya. Tapi Rien tetap menjawab pertanyaan ibunya.

Kata Rien, “Apapun orang bilang tentang lembaga pembiayaan tergantung siapa yang menyikapinya, Bu. Tidak semua lembaga pembiayaan seburuk seperti yang Ayah pikirkan. Sejauh ini aku enjoy dan baik-baik saja.” Rien memaksa dusta itu berkelabut, sementara pikirannya menerawang jauh, kembali ke berbagai hal di kantornya yang panas membara.

Semua memang di luar perkiraan Rien.

Bulan September tahun lalu adalah bulan pertama Rien menginjakkan kaki di kantor barunya, Vista Finance, lembaga pembiayaan yang mengkhususkan operasi keuangannya memfasilitasi kredit kendaraan roda dua. Rien masih ingat bagaimana dia berpikir itu hari terbaiknya karena diterima bekerja di perusahaan itu sebagai field survei. Dalam sejarah lembaga pembiayaan di kotanya, belum pernah ada perempuan diterima dengan posisi itu. Rien senang, karena saat masih aktif bekerja sebagai sales marketing di dealer Fridas, empat tahun ia mengamat-amati dan berpikir betapa beruntungnya mereka yang bekerja sebagai field survei di lembaga pembiayaan. Cukup lama ia mengidamkannya. Di mata Rien, field survei itu keren, rapi, penting dan selalu dibutuhkan. Bagaimana tidak? Lembaga pembiayaan merupakan mitra inti dealer yang membiayai setiap berkas aplikasi kredit dan field survei adalah ujung tombaknya. Di dealer-dealer penjualan yang menjalin kerjasama, setiap lembaga pembiayaan menempatkan sedikitnya dua orang field survei. Seluruh berkas aplikasi kredit yang masuk ke dealer baik dari konsumen langsung maupun dari hasil kerja sales marketing dan para broker, diserahkan pada field survei untuk diproses. Hasil analisa lapangan field survei akan menentukan apakah konsumen kredit atau calon debitur layak diberi fasilitas kredit atau tidak. Fungsi mereka sangat vital dan keren. Itulah yang mendorong Rien pindah begitu dilihatnya ada peluang.

Masih diingat Rien saat-saat pertama itu, hari pertama ia menginjakkan kakinya di Vista Finance. Hari itu ia mendapati dirinya berada di bangunan tujuh lantai yang sibuk. Di lantai pertama ia saksikan lusinan orang keluar-masuk pintu, dan di dalam ia lihat lebih banyak lagi kumpulan orang duduk mengantri di deret-deret kursi ruang tunggu. Seorang perempuan, anggun dan cantik, Rien lihat cermat memanggil satu-persatu para pengantri di depannya. Kemudian tampak dua perempuan lagi, cantik-cantik semua seperti melon dibelah dua, sigap dan cekatan melayani para pengantri yang menghadap setelah nama mereka dipanggil. Para pengantri itu tentu datang untuk berbagai keperluan, namun lebih banyak mereka adalah para debitur yang membayar angsuran kredit.

Di lantai dua, Rien menyaksikan pemandangan yang berbeda. Kehadirannya disambut wajah-wajah tak bersahabat. Lebih dari selusin laki-laki berwajah garang melangkah kesana-kemari. Ada yang berteriak. Ada yang berdebat. Ada yang kalut seperti pengidap amnesia. Namun lebih aneh lagi, ada yang berjalan dengan gaya mabuk terhuyung-huyung. Orang-orang di lantai dua tak satupun mencerminkan manusia kantor. Cara bicara mereka sama kasarnya seperti wajah mereka. Hari pertama itu Rien segera paham, mereka itu para kolektor atau para tukang tagih.

Rien disambut oleh seorang pria murah senyum. Dari lantai dua si murah senyum membawanya ke lantai lima. Di ruang lantai lima itulah Rien bertemu dengan orang-orang yang sebagian sudah ia kenal. Di situ ada lebih dua lusin laki-laki keren berkumpul di sebuah meja panjang. Semua berpenampilan rapi dan wajah mereka bersih-bersih, sangat kontras dengan yang dilihatnya di lantai dua. Ternyata ruang kerja para field survei ada di lantai lima. Beberapa orang mendekat begitu Rien muncul. Mereka yang telah mengenalnya memberi salam sambil mengucapkan, “Selamat bergabung!” Ada juga yang langsung bergurau menjuluki Rien: Cat Women! Sementara Rien masih ingin berbincang-bincang, si murah senyum buru-buru mengajaknya lagi ke sebuah ruangan.

Pagi itu seorang field survei sempat berbisik ke Rien, “Hati-hati jika bicara di ruangan itu. Tempat itu mengerikan. Itu ruang singa.”
Sebuah peringatan!

Di ruang itu Rien dihadapkan pada laki-laki paruh baya bertubuh tinggi besar, angkuh, hidungnya bengkok, tangan penuh bulu, wajahnya memancarkan dominasi, dan tatapan matanya bisa membuat orang lain gamang dengan naluri tak pernah takut menghantam. Laki-laki itu menyalami Rien dengan cengkraman kuat tak peduli Rien perempuan. Ia sempat kagum sebenarnya, karena dilihatnya Rien satu-satunya perempuan yang berani bergabung sebagai field survei di kantornya. Ia juga kagum mendengar jawaban Rien saat ia bertanya, “Kenapa kamu berani pilih pekerjaan ini?” Jawaban Rien sederhana, “Dunia ini bukan milik laki-laki, Pak.”

Begitulah. Mula-mula pria paling berkuasa di kantor itu mewawancarai Rien dengan senang. Keduanya bicara ngalor-ngidul tentang seluk-beluk pekerjaan. Dalam pembicaraan semua kalimat laki-laki itu menyiratkan esensi bertarung, tak ada tawar-menawar, apalagi debat kusir. Tapi pagi itu satu kali Rien coba-coba membantah, laki-laki itu langsung menampar meja dan menegaskan pendapatnya tak boleh dibantah. Rien geram, ingin rasanya ia mencakar-cakar wajah bengis itu, tapi setelah dipikir tak mau ia terpancing, Rien hanya mengangguk. Namun Rien segera menyimpulkan, yang dihadapinya pagi itu memang pemimpin berkarakter “singa” yang memiliki kekuasaan memerintah dan otoritas superbody di perusahaannya. Setelah semua selesai, si murah senyum membawa Rien keluar. Mereka kembali ke ruang field survei dan bergabung di sana.

Hari-hari berikut Rien sudah memulai pekerjaannya. Namun Rien kecewa, ia ditempatkan di dealer yang tak sesuai keinginannya. Di tempatkan di dealer Ardisialt, Rien meradang. Bagaimana tidak? Selama bekerja bertahun-tahun di dealer Fridas, sudah tertanam di benaknya bahwa dealer Ardisialt adalah musuh abadinya. Rasa tidak harmonisnya adalah bawaan dari perang dingin bisnis berkepanjangan antara dealer Fridas dan dealer Ardisialt. Namun penunjukan itu tak bisa diubah. Pihak Vista Finance tak mau melihat sangkut paut semacam itu, maka penempatan Rien di dealer Ardisialt adalah tugas yang harus dipatuhinya.

Rien sadar ia akan mendapat kesulitan. Ia tahu orang-orang di Ardisialt akan melihat wajahnya tak ubah mereka melihat Dealer Fridas yang sangat mereka benci. Tak seorangpun mau bekerja dengan fakta ia akan diabaikan atau diperlakukan seperti musuh. Namun itulah kemudian yang terjadi. Di bulan-bulan pertama Rien menjalankan tugasnya di salah-satu dealer cabang Ardisialt di pusat kota, bulan-bulan pertama itu dilaluinya dengan sulit. Rien tak bisa melepas kenyataan bahwa ia memang mantan orang Fridas, maka ia dikucilkan dan jarang disapa oleh sales-sales marketing Ardisialt, sementara tiap hari orang mondar-mandir di matanya, saling bercerita, memberi pelayanan, berbagi berkas aplikasi, tapi ia hanya menonton. Untunglah di bulan-bulan pertama itu, sementara banyak orang Ardisialt bersikap sinis dan memusuhinya, ia masih terhubung pertemanan baik dengan dua sales marketing baru, bernama Rere dan Dias. Dua orang itu yang banyak membantunya, menghubunginya, memberinya berkas aplikasi secara sembunyi-sembunyi. Bagi Rien, kehadiran Rere dan Dias ibarat soulmate yang mengobati patah hatinya dan memberinya kekuatan hidup di ladang musuh yang penuh ranjau. Tiga bulan pertama berkas-berkas aplikasi yang Rien peroleh dari Rere dan Dias tak ada yang bermasalah. Hampir semua konsumen kredit atau calon debitur dari mereka Rien proses dan di dalam laporan hasil survei lapangannya Rien rekomendasikan dengan note: layak! Namun memasuki bulan keempat Rien mulai waspada. Ia lihat lama-kelamaan Rere dan Dias mulai ngawur. 

Tindak-tanduk Rere dan Dias mulai berubah dan mereka mulai kehilangan objektifitas dalam memilah-milah calon debitur di lapangan. Keduanya mulai ikut-ikutan terkontaminasi konstruksi sesat instant marketing yang hanya fokus mengejar target dengan menghalalkan segala cara. Dengan halus Rien mulai menolak dan menghindar, apalagi setelah disingkapnya bahwa Rere dan Dias mulai dimanfaatkan oleh Gimon, seorang pria bergigi ompong yang sehari-hari mondar-mandir sebagai broker di dealer Ardisialt.

Pernah suatu ketika Rien hanya tersenyum ketika melakukan survei terhadap tiga calon debitur dari aplikasi sampah yang diberikan Rere dan Dias. Tiga calon debitur itu ternyata seorang pengangguran yang menyamar sebagai ustad, seorang mahasiswa drop out yang luntang-lantung tapi dengan kios service elektro milik temannya ia berlagak sebagai bos kios, lalu terakhir seorang buruh penyemprot hama yang gemar berjudi dan minum tuak.

Belakangan terbukti Rere dan Dias ternyata bajingan juga. Bermula dari gosip yang beredar di kantor bahwa ada dua konsumen bermasalah atau debitur hitam ada di daftar tagihan macet Rien. Ternyata itu bukan sekedar gosip.


  Sejak ada dua debitur hitam masuk dalam daftar tagihannya, di kantor Rien mulai dilolong oleh gerombolan colector atau para tukang tagih. Bahkan Rien sempat berhadapan dengan kepala colector bernama Contro, seorang pria sangar berbadan besar. Sambil mengelus perut buncitnya yang tampak mau tumpah, Contro mengingatkan bahwa Rien harus bertanggungjawab terhadap tagihan-tagihan prematur yang macet itu.
     
   “Aturan main di sini sudah jelas. Kamu yang harus tutupi tagihan macet itu,” kata Contro dengan pelototan mata penuh ancaman.
    
   Semua field survei di Vista Finance ternyata sudah terbiasa menutupi tagihan prematur mereka yang macet menggunakan uang pribadi. Itu aturan mainnya. Aturan main seperti itu sungguh di luar perkiraan Rien, dianggapnya sangat tak adil, namun Rien tak ingin berbantah-bantah dengan Contro. Rien akhirnya mulai menyisihkan gaji bulanannya demi mengikuti aturan main itu. Agar tak terulang, Rien semakin selektif dan ketat dalam menjalankan pekerjaannya.
    
    Beberapa waktu setelahnya, berkat lobi-lobi yang dilakukan para atasannya, aplikasi untuk Rien di dealer Ardisialt bisa dibilang mulai lancar. Beberapa sales mulai bersikap terbuka. Sayangnya itu terlambat dan itu bukan lagi puncak harapan yang rien cari. Rien sudah merasa dikecewakan oleh Rere dan Dias, maka tak ada lagi keriangan dan kegembiraan yang melimpah di hatinya meskipun banyak aplikasi kredit disodorkan untuknya. Justru Rien “mengamuk” dan “apatis” dengan berbalik menolak aplikasi-aplikasi permohonan kredit dari dealer itu. Rien malah merasa: orang-orang Ardisialt sedang berkonfirasi untuk menghancurkannya!
    
    Sales-sales Ardisialt yang belum banyak tahu Rien dibuat tercengang oleh gaya survei Rien yang lugas tak kenal kompromi. Sulit bagi sales-sales itu menyembunyikan fakta-fakta “busuk” di balik aplikasi itu karena Rien menjadi sangat teliti, detil, tajam, bahkan keras dalam menganalisa calon-calon debitur yang disurveinya. Banyak sales-sales yang masih bau kencur di Ardisialt namun mereka merasa paling pintar dan congkak, Rien beri pelajaran tanpa ampun. Timbulnya daftra panjang aplikasi calon debitur yang selalu Rien tolak tentu saja membuat sales-sales itu menjerit.
     
    “Kok aplikasi kami satupun nggak pernah ada yang diaprove? Semuanya ditolak?” Pernah ada yang coba-coba protes keras pada Rien.
     
    “Hei, yang survei itu kamu atau saya? Semua saya tolak ada alasannya. Makanya cari calon debitur itu jangan asal-asalan. Jangan coba-coba atur keputusan saya, ya!”
     
    Bukan hanya sales-sales Ardisialt yang merinding melihat Rien, bahkan head Field Survei di Vista Finance pun sempat terkencing-kencing melihat berlusin-lusin aplikasi yang ditolak perempuan itu hanya dalam waktu dua minggu. Tepatnya hari Sabtu, langit kelabu pun menaungi Rien. Hari itu Rien mendapat panggilan dan digiring masuk ke “ruang singa”  untuk memperdebatkan keputusan-keputusannya. Pemanggilan itu ternyata berkait pula dengan “keberatan” atau “upaya banding” yang diajukan oleh dealer Ardisialt karena mereka merasa dirugikan oleh keputusan-keputusan Rien. Di hari kelabu itu Omar sudah menunggu Rien di “ruang singa” dan lelaki penuh bulu itu langsung meledak-ledak menyambutnya. Akhirnya Rien tak bisa lagi menghitung berapa kali tangan atasannya itu menampar-nampar meja penuh kegeraman. Satu jam lamanya jantung Rien dibuat berdegup. Meski Rien bicara dihadapan Omar dengan segala kebenaran yang dimiliki, lelaki berbulu itu tetap dominan dan tetap tak mau lunak. Ia terus mengaum meruntuhkan nyali Rien. Kalimatnya mencakar-cakar.
    
    “Kamu jangan gila! Ini bisnis. Jika kamu koboi-koboian bisa hancur bisnis ini. Mustahil dari semua aplikasi mereka satupun tak ada yang layak. Jika kamu memang sudah tidak sanggup lagi, saya tunggu surat pengunduran diri kamu di meja ini. Jangan tolak-tolak seenaknya, dong!”
    
    Rien meringkuk dan merinding setiap mendeengar atasannya itu bicara. Tapi Rien memahami, di balik lubuk jiwa terdalamnya sang atasan sebenarnya pria baik. Hanya karena ia menangani sebuah perusahaan yang besar, maka sosok seperti Omar dituntut mengubah dirinya menjadi yang berbeda: menakutkan seperti singa dan meledak-ledak seperti cambuk api! Itu ia lakukan tentu untuk menjaga otoritas, menjaga ketertiban kantor, menunjukkan dominasi, mengendalikan, melindungi, menjaga, dan memperluas pengaruhnya. Setiap kantor butuh pemimpin yang lugas dan keras. Jika tidak, maka simaklah pepatah ini: kalau di hutan tak ada lagi singa, beruk rabun pun bisa jadi raja!
     
    Sulit untuk menangkal Omar, lemah saja Rien menjawab: “Saya minta maaf, Pak. Saya mengambil keputusan berdasarkan fakta survei. Aplikasi-aplikasi itu memang tak ada yang layak.”
     
     Meski suara Rien lemah, ternyata ucapannya dinilai Omar sebagai satu bantahan yang mencolok. Tiba-tiba saja—DUBRAK—tangan keras Omar menampar meja lagi. “Saya bilang pasti ada yang layak! Jangan kamu bantah saya. Saya putuskan kamu harus survei ulang lagi semuanya!”
    
      Sudah pada galibnya, setiap pertemuan empat mata dalam menyelesaikan masalah kantor antara atasan dan bawahan akan selalu menampakkan keganasan berlebih dari sang atasan, terlebih jika bawahan hanya mengkerut seperti daging.
     
     Tapi Rien coba bersuara lagi, karena ia pikir mungkin itu hanya presure atau gertakan Omar untuk mengujinya. “Akan saya dalami lagi, Pak. Tapi saya akan tetap pada sikap profesional saya.”
     
     Tahu-tahu saja—DUBRAK—aksi menampar meja kembali terulang. Rien barangkali lupa bahwa setiap pemimpin tidak pernah mau mengambil resiko yang lebih besar. Pemimpin cenderung memilih mengorbankan satu pengikut daripada eksistensinya terancam.
    
     “Jika saya bilang kamu survei ulang semuanya, ya harus kamu survei ulang semuanya! Apalagi yang mau kamu dalami? Kamu pikir kita sedang membahas lobang? Jika nanti saya bilang ada aplikasi yang layak diaprove, ya harus kamu aprove! Jangan sampai saya bersikap lebih keras lagi dari ini. Kamu paham?” Kalimat-kalimat Omar yang disertai tudingan jari itu akhirnya efektif membuat Rien mundur lebih cepat dari ruangan.
    
      Rien keluar dari “ruang singa” dengan tubuh basah kuyup. Di ruang itu keringatnya ternyata memancur lebih cepat karena dipompa ketegangan dan ketakutan. Itulah peristiwa yang membuat Rien semakin goyah. Ia merasa masa depan pekerjaannya mulai suram. Sesungguhnya sekarang ini ia merasa sedang berada di persimpangan yang pelik. Ia pun semakin tak simpatik dengan dealer Ardisialt. Ia muak, jijik, bahkan sudah malas rasanya berhubungan dengan orang-orang di dealer itu. Tapi entah kenapa, berulangkali Rien mengajukan permohonan agar dipindahkan ke dealer lain, head field survei Vista Finance tetap berkeras menempatkannya di Ardisialt.
    
      Begitulah. Hingga pagi itu di rumahnya pikiran Rien sebenarnya masih terombang-ambing. Ia gelisah antara lanjut atau usai: galau!
     
      “Rien, kok malah melamun?” suara Muna membuyarkan pikiran Rien yang masih menerawang. “Kamu sedang menyimpan masalah ya? Cerita dong jika ada masalah.”
     
      Rien menggeleng. “Aku hanya memikirkan teman-teman lamaku di dealer Fridas, Bu.” Rien sengaja berdusta, karena bagaimanapun ia tak ingin ibunya tahu tentang keresahannya. Rien merasa harus tetap kuat di hadapan ibunya. Apalagi ia lihat, betapa ibunya sangat bangga melihat ia menjalani pekerjaannya di Vista Finance.
     
      “Iya, ibu juga sebenarnya kangen ingin melihat teman-teman lamamu. Apa kamu tidak pernah sesekali menengok mereka di dealer tempatmu dulu bekerja?”
    
   
      “Tidak sempat, Bu. Hanya sesekali saja kami saling telepon,” jawab Rien sambil menengok arlojinya.
     
      “Bertemu Ellen juga tidak pernah, ya?”
    
      “Sejak berhenti kerja dari dealer Fridas, baru satu kali aku ketemu Ellen. Katanya sih dia sekarang sudah konsentrasi jadi penulis.” Rien bangkit meninggalkan meja makan.
    
      “Memang,” sahut Muna sambil mengangkat piring dan gelas dari meja. Lalu sebentar perempuan itu meletakkannya ke tempat pencucian piring. “Tuh kemarin ada cerpennya yang dimuat koran lagi dan itu yang tadi membuat ayahmu panjang lebar membahasnya.”
    
      Rien menuju ke ruang depan. Muna mengikuti langkahnya. Di ruang depan Rien memeriksa koran-koran di meja ayahnya. Didapatinya koran yang ia cari.
    
      “Cerita apa sih yang ditulis Ellen, kok bikin ayah berisik sekali tadi.”
   
      “Bukan soal ceritanya yang membuat ayahmu ribut-ribut, tapi soal kamu yang sangat diharapkan ayahmu bisa jadi penulis juga seperti Ellen. Begitulah ayahmu, jika sudah soal tulis-menulis dia tak mau darah-dagingnya kalah dari orang lain.”
    
      Rien tak menyahut. Ia serius dengan koran yang ia pegang dan membaca cerpen Ellen yang dimuat di koran itu.
     
     “Bagus ya cerita yang ditulis temanmu itu, Rien?’ tanya Muna sambil mengambil sapu lantai dari balik pintu.
    
      Rien tak menjawab. Ia hanya tertawa-tawa setelah menyelesaikan cerpen yang dibacanya.
    
      “Lho, kok malah ditertawakan, Rien?”
    
      “Ini sih yang ditulisnya kisah nyata tentang temannya sendiri, Bu. Ini cerita tentang masa kecil Alin yang pernah menderita autis. Tega banget sih Ellen menulis ini.”
     
      Rien akhirnya mengembalikan koran itu ke meja ayahnya. Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan, ia kemudian mulai bersiap untuk berangkat kerja.
    
      Seperginya Rien, Muna tetap sibuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Setelah dirinya agak santai, Muna ternyata tertarik juga membaca cerpen tentang kisah masa kecil Alin yang ditulis Ellen. Diambilnya koran minggu terbitan Jakarta itu dari meja suaminya. Lalu di tengah kesendirian Muna mulai tenggelam membaca cerpen Ellen yang terdapat di salah satu halaman di koran itu:
 


No comments:

Post a Comment