SAHARAKAFILA

SAHARAKAFILA

Thursday, September 13, 2012

Istri Rasullullah


SITI HINDUN


 
  Istri Rasul yang ke-6 adalah Hindun Binti Abi Umayyah bin Al-Mughiyroh bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqdzah bin Murrah Al-Makhzumiyyah. Ia adalah anak perempuan dari Pamannya Khalid bin Walid RA dan Abu Jahal.
      Nama asli ayahnya adalah Suhail yang diberi gelar Zaadur-Raqib (Bekal bagi para Musafir) karena setiap orang yang mengadakan perjalanan bersamanya akan selalu dicukupi semua kebutuhan perbekalannya. Ibunya bernama Atikah binti Amir bin Rabi'ah dari Bani Kinanah.Hindun binti Abu Umayyah adalah seorang wanita yang cerdas, berparas cantik, dan terhormat nasabnya. Lahir di Makkah, 17 Tahun sebelun Kenabian.
      Suami pertamanya adalah, seorang laki-laki yang sholeh, dan merupakan saudara sepersusuan Rasululloh SAW, yang bernama Abdullah bin Abdul Asad Al-Makzumi. Dari pernikahannya itu dikarunai Satu Orang Putri dan Dua Orang Putra, yaitu Zaynab, Umar, dan Salamah.
      Ummu Salamah seorang wanita yang mulia keluarga dan nashabnya, putri dari seorang yang paling dermawan di kalangan orang Arab. Ia merelakan jiwanya meniti di jalan Alloh SWT, dan dia juga termasuk orang yang pertama kali Hijrah ke-Habasyah bersama suaminya. Disanalah putri pertamanya, Zaynab, dilahirkan. Kemudian pulang ke Makkah bersama keluarganya secara sembunyi-sembunyi dari penguasa orang-orang Arab dan tetap bersabar mengikuti ajaran Alloh dan RasulNYA, hingga akhirnya Hijrah ke Yatsrib (Madinah Al-Munawwaroh)
      Lembaran Hijrah kaum muslimin tak akan bisa melupakan perjuangan seorang Ibu bersama putranya yang masih balita, yaitu Hindun binti Abi Umayyah RA dan Salamah. Pada awalnya, Hindun binti Umayyah bersama suami dan anak-anaknya akan Hijrah bersama kaum Muslimin lainnya ke Madinah, namun hal ini diketahui oleh Bani Al-Mughiroh yang kemudian menahan dan melarang dirinya bersama putranya yang masih balita, Salamah, untuk ikut hijrah. sementara suami dan anak2nya yang lain dibiarkan pergi. Maka terpisahlah Hindun bersama suami dan anak-anaknya. Semenjak itu, setiap pagi Hindun pergi dari perkampungannya, duduk melamun sendiri di lembah. Ia selalu menangis hingga sore hari, dan hal itu berlangsung hingga Tujuh hari. Hingga suatu hari seorang laki-laki dari keturunan pamannya menjumpainya di lembah, kemudian karena tidak tega melihat keadaan dirinya yang kuyu pucat dan selalu bersimbah air mata, laki-laki tersebut pergi ke kediaman Bani Al-Mughiyrah dan berkata; "Apakah kalian tidak merasa iba melihat wanita miskin itu ketika kalian memisahkannya dari suami dan anaknya?". Bani Al-Mughirah menjawab: "Satukanlah ia dengan suaminya jika engkau mau". Akhirnya Siti Hindun RA bersama Salamah yang masih balita pergi ke Madinah dengan hanya mengendari unta dan tidak ada satu orang pun yang menemaninya. Mereka berdua berani menembus kegelapan malam, melewati teriknya siang, dan melawan ganasnya gurun sahara, melalui perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan dengan jarak lebih dari 400 KM, semata-mata hanya mengharapkan keridloan Alloh dan RasulNYA. Karena peristiwa ini lah ia digelari Ummu Salamah, dan suaminya digelari Abu Salamah. Sesampainya di Tan'im ia bertemu dengan Utsman bin Thalhah, saudara Banu Abdiddar, yang kemudian karena merasa iba kepada ibu dan anak itu, Utsman mengantarkannya sampai ke Madina dan bertemu dengan suami dan anaknya dengan penuh keharuan dan kebahagiaan.       Abu salamah RA wafat pada Tahun ke-4 Hijriyah akibat luka yang dideritanya ketika perang Uhud, pada awalnya ia menyangka luka itu sudah sembuh, namun ternyata malah bertambah parah. Umar bin Abu Salamah RA berkata; "Ayahku pergi ke Perang Uhud, lalu Abu Salamah Jasyami melukainya di Lengan dengan panah. Lukanya diobati selama sebulan dan kemudian sembuh. Lalu Rasululloh SAW mengutus ayahku ke-Qathan pada Bulan Muharram, bulan ke-35 Hijriyah. Ia pergi selama 29 hari dan memasuki Madinah pada 8 Shafar Tahun ke-4 Hujriyah dan lukanya sudah membusuk. Ayahku wafat karena luka itu, pada 8 Jumaditsani Tahun ke-4 Hijriyah".     Diriwayatkan, ketika menjelang wafatnya, Abu Salamah RA berdo'a; "Ya Alloh berikanlah pengganti diriku yang lebih baik untuk keluargaku ini".
      Ummu Slamah RA berkata; Sepeninggal Abu Salamah RA, setiapkali aku berdo'a; "Ya Alloh gantilah aku yang lebih baik darinya". Aku bertanya dalam hati, siapakah yang lebih baik dari Abu Slamah?".Dlomroh bin Habib RA meriwayatkan bahwa Rasululloh SAW mengunjungi Ummu Salamah untuk menghiburnya atas wafatnya Abu Salamah. Saat itu Rasul berdo'a; "Ya Alloh, hapuskanlah penderitaannya, senangkanlah hatinya, dan berilah ia pengganti yang lebih baik". Dlomroh melanjutkan: Alloh SWT menghapus penderitaannya, menyenangkan hatinya dan memberinya pengganti yang lebih baik. Ummu Salamah RA dinikahi oleh Rasululloh SAW".
      Umar bin Abu Salamah RA berkata; "Ayahku, Abu Salamah RA wafat pada 8 Jumaditsani Tahun ke-4 Hijriyah. Ibuku, Ummu Salamah RA, menjalani masa 'iddahnya hingga 10 Syawal Tahun ke-4 Hijriyah, kemudian Rasul menikahinya pada akhir bulan Syawal Tahun ke-4 Hijriyah".Diriwayatkan dari Muhammad bin Umar bin Abi salamah RA bahwa Rasululloh SAW mengajukan Pinangannya untuk Ummu Salamah RA kepada putranya. Dan Umarlah yang menikahkan ibunya dengan Rasululloh SAW. Pada saat itu Umar masih berusia remaja".

B. Keutamaan Ummu Salamah RA 
1) Seorang Wanita yang Tabah, Ikhlas, dan Wara'
           Ketabahan dan keikhlasan Ummu Salamah sudah tergambar dalam peristiwa Hijrahnya baik ke Habasyah maupun ke Yatsrib (Madinah), begitu juga saat ia merawat penyakit suaminya. Dan sifat-sifat itu semakin melekat pada dirinya ketika ia dinikahi Rasululloh SAW hingga akhir hayatnya.Ummul-Mu,miniyn Ummi Salamah RA berkata; "Rasululloh SAW menikahiku dengan memboyongku pindah ke rumah/kamar Zaynab binti Khuzaymah, Ummul-Masaakin, setelah ia wafat. Dikamarnya ada sebuah kendi, ku lihat didalamnya ada sedikit gandum. ada penggilingan, wadah tembikar dan panci memasak. Kulihat panci itu berisi lemak cair yang sudah membeku. Aku mengambil gandum itu dan menggilingnya, kemudian menaruhnya di wadah tembikar. Ku ambil bekuan lemak cair itu, lalu ku bumbui gandum itu dengannya. Itulah makanan Rasululloh denganku pada malam pernikahan kami".
      Ummu Salamah RA juga merupakan wanita Sholihah yang sangat Wara' (Selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu mengambil keputusan). Contohnya adalah ketika ia menentukan siapa yang akan menjadi pendampingnya dan menjadi ayah angkat bagi anak-anaknya setelah wafatnya Abu Salamah RA. Sebagaimana diriwayatkan, ketika masa 'iddahnya selesai, Para Sahabat Rasul, termasuk Abu Bakar As-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA mengajukan pinangan kepadanya, namunia menolaknya. Padahal seperti diketahui, dua sahabat Rasul itu merupakan orang-orang yang Mulia dan dimuliakan oleh Alloh SWT. Bahkan ketika Rasululloh SAW datang untuk meminangnya pun ia tidak langsung menerimanya, melainkan pada awalnya menolak dengan alasan-alasan yang memberatkan hatinya, namun ketika Rasululloh SAW meyakinkan dirinya bahwa keberatan-keberatan tersebut bisa diatasi oleh Rasul dengan izin Alloh SWT, barulah Ummu Salamah RA menerimanya dan bersedia menjadi istri Rasululloh SAW.Ummu Salamah RA berkata; "Ketika Rasululloh SAW meminangku, aku katakan beberapa hal yang membuatku tidak ingin menikah; "Aku sudah Tua. Aku Ibu dari anak-anak Yatim. Dan Aku Seorang yang sangat Pencemburu". Lalu Rasul mengirimkan utusan kepadaku, Rasul berpesan; "Mengenai perkataanmu bahwa engkau sudah tua, sesungguhnya Rasul lebih tua dari padamu dan tidak ada halangan bagi seorang wanita untuk menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Tentang perkataanmu bahwa engkau inu dari anak-anak yatim, mereka adalah urusan Alloh dan RasulNYA. Tentang kecemburuanmu, Rasul akan berdo'a kepada Alloh SWT untuk menghilangkannya".Dan hal ini terbukti, Rasululloh SAW mendidik anak-anak tirinya dari Ummu Salamah RA sebagaimana layaknya anak sendiri, Zaynab dan Umar RA menjada anak-anak yang sangat faham tentang ajaran Islam, begitu juga dengan Salamah RA yang kemudian dinikahkan dengan putri pamannya Rasul yang bernama  Hamzah bin Abdul Mutholib. Kecemburuan Ummu Salamah RA pun dapat teratasi, bahkan ia bangga karena menjadi istri Rasul yang paling dituakan diantara istri2 Rasul lainnya".

2) Istri yang Sangat Bijak dan Tegas dalam menyampaikan Saran pendapat.
         Ummu Salamah RA merupakan Istri Rasululloh SAW yang paling dituakan, karena disamping umurnya yang memang lebih dewasa dibandingkan istri-istri Rasul yang lain, ia juga seorang wanita yang sangat bijaksana dan tegas dalam setiap tindakan dan saat menyampaikan saran pendapatnya. Diriwayatkan bahwa Rasululloh SAW, demi memberikan penghormatan kepada istri-istrinya dan memberi teladan kepada umatnya, setiap habis selesai sholat berjama'ah Ashar Rasun mendatangi rumah istri-istrinya dimulai dari yang lebih tua, ummu Salamah RA, sampai kemudian diakhiri kepada yang lebih muda, Siti Aisyah RA.
     Ummu Salamah RA juga istri Rasul yang paling sering ikut berperang bersama Nabi Muhammad SAW, karena bertepatan nama ia lah yang keluar ketika Rasul mengundi istri2nya tentang siapa yang akan menemaninya dalam peperangan, dan hal ini juga merupakan kemuliaan dari Alloh SWT atas sifat Ummu Salamah Ra yang bijaksana dalam memberikan saran pendapatnya sehingga berguna untuk Rasul dan kaum muslimiyn yang sedang menghadapi Jihad fiy sabilillah. Seperti Penaklukkan Benteng Khaybar, Fathu Makkah, Pengepungan Tha,if, dan Perang melawan Qabilah Hawazin.Diriwayatkan bahwa pada saat Perjanjian Hudaybiyah, Ummu salamah RA memberikan Saran yang sangat berharga kepada Rasululloh SAW, sehingga selamatlah para sahabat yang hadir pada waktu itu dari berdurhaka kepada Alloh dan RasulNYA. Hal itu terjadi ketika para Sahabat merasa bahwa Perjanjian Hudaybiyah yang telah disepakati merugikan kamu Muslimin. Kemudian Rasululloh SAW berkata kepada para sahabat; "Wahai Para Sahabatku, berdirilah kalian, sembelihlah hewan, dan cukurlah rambut kalian". Namun tidak ada satu orang sahabatpun yang beranjak dari duduknya. Sehingga Rasul mengulangi perintahnya sampai Tiga kali, namun tetap saja tidak ada sahabat yang menuruti. Melihat hal ini, Ummu Slamah RA yang kebetulan terpilih untuk menemani Rasululloh SAW dalam perjalanan Perjanjian Hudaybiyah, langsung berbisik kepada Rasululloh SAW "Wahai Rasul, apakah Engkau menginginkan keta'atan para sahabat kepadamu? Pergilah engkau keluar untuk menyembelih unta dengan tanpa berbicara kepada siapapun, menyembelih unta dan mencukur rambut". Rasululloh SAW pun segera keluar dengan tanpa berbicara kepada siapapun, menyembelih unta, lalu memanggil tukang cukurnya dan becukur. Ketika para sahabat meli9hat hal itu, mereka segera berdiri, menyembelih unta, dan saling mencukur rambut di antara mereka. Dan selamatlah mereka dari bahaya menyalahi perintah Rasululloh SAW.
      Ummu Salamah RA juga pernah memberikan saran kepada Siti 'Aisyah RA yang bertekad untuk memimpin pasukan menemui Khalifah 'Aliy bin Abiy halib RA di kota Kuffah dalam Perang Jamal, untuk tidak ikut campur dalam persilihan fitnah yang terjadi antara kaum Muslimin pada saat itu. Namun Siti 'Aisyah RA tetap teguh dalam pendiriannya dan melanjutkan niyatnya. 

C. Wafatnya Ummu Salamah RA     
           Ummu Salamah RA merupakan istri yang sangat baik di sisi Rasululloh SAW. Ia juga selalu nerusaha menjaga kesatuan hati dengan Istri Rasul lainnya, baik sebelum maupun sesudah wafatnya Rasul.     
    Ummu Salamah RA adalah Istri Rasululloh SAW yang wafat paling akhir, yaitu pada Tahun ke-61 Hijriyah, dalam Usia hampir 90 Tahun. kan tetapi sebagian riwayat mengatakan, Ummu Salamah RA wafat pada Usia 84 Tahun. Pada Bulan Dzul-Qo'adah Tahun ke-59 Hijriyah, dana ada juga yang berpendapat Tahun ke-62 Hijriyah, dan dimaqamkan di Baqi'.Imam Nafi' RahimahuLLOHU berkata; " Ummu Salamah RA, Istri Rasul, wafat pada Tahun ke-59 Hijriyah. Dan Abu Hurayrah RA mensholatkannya di Baqi".

No comments:

Post a Comment