Sunday, October 19, 2014

DARAH DAGINGKU RIBA


 Seorang mahasiswa di Malang, melalui suratnya, menyatakan rasa cemas jangan-jangan yang selama ini ia makan dari orangtuanya yang pedagang itu adalah riba. Bahkan, barang haram. Ia mencoba mengislahnya, memperingatkan orangtuanya, memberontak dan terus mencoba menyatakan sikap.
 

"Dalam berdagang," tulisnya, "Bapak saya selalu mencampurkan antara barang yang bagus dengan yang jelek, sementara ia memberi harga seolah-olah semuanya adalah barang bagus, dan pembeli tidak diberitahu bahwa barang itu campuran. Jelas dalam hal ini mengandung penipuan.
Sebagai putrinya saya telah berusaha menasehati bapak, juga berdoa kepada Tuhan agar beliau menghentikan kecurangan itu. Tapi bapak terus saja, padahal seluruh makan minum dan biaya hidup saya berasal dari kecurangan ini. Saya jadi merasa bahwa saya juga berdosa. Bahwa seluruh perbuatan baik saya, shalat, puasa dan amal-amal saya tidak ada gunanya. Darah daging saya ini riba, haram...."



Memang. Para penjual bensin eceran di kios-kios pinggir jalan saja pun selalu memasang pagpn "Jual Bensin Murni." Padahal orang yang paling bodoh pun bisa mengerti bahwa si penjual tidak mungkin mengebor minyak sendiri dan langsung dijual dalam keadaan murni. Bahwa is harus mengarnbil laba dari bensin yang dibelinva di pom, dan satu-satunya kemungkinan untuk memperoleh laba adalah dengan mencampurkan minyak tanah.

Penipuan sudah sangat telanjang. Dan adapun pada mekanisme perdagangan yang samar dan bisa ditutupi, yang terjadi mungkin `maha' penipuan. Dan kita semua sudah immun (kebal). Sudah merasa biasa dan normal. Di bawah sadar yang kita bawa sehari-hari dalam berdagang, hal itu 'bukan dosa' lagi.

Sesungguhriya, dalam kosmologi hidup ini ada yang namanya gelombang, vibrasi, getaran, atau resonansi.

Kalau istri kita hamil, kita rajin-rajin membisiki perutnya dengan kalimah tahyyibah serta doa-doa yang bijak buat anak kita. Itu artinya kita menciptakan atmosfer batin yang akan merupakan landasan kemakhlukan dan kepribadiannya kelak. Bukankah Allah sendiri memperkenankan dan meminjamkan kesanggupan semacam ini dengan pernyataan melalui RasulNya pahwa para orangtualah yang mernerahkan atau menghijaukan
anak-anaknya?

Maka kita putihkan atau kita kuningkan putra kita tidak hanya melalui gerbang kesadaran akalnya; melainkan juga melalui seribu pintu biologis dan spiritual lainnya. Kita lantunkan doa dan harapan melalui pori-pori kulit istri kita dengan harapan pantulan kun fayakan-Nya akan berlaku bagi anak-anak kita sesuai dengan pemenuhannya atas dambaan kita.

Bagi bayi, pendidikan tahap awal adalah spiritualitas, selanjutnya baru intelektual-rasional, paedagogis maupun andragogis. Bagi orang dewasa dan tua, pendidikan tahap pertama haruslah dialog intelektual, strategi rayuan empirik, baru kernudian mendaya-gunakan gelombang spiritual. Jadi mahasiswi kita di Malang itu tak boleh berhenti melakukan ketiga-tiganya.

Rumah yang sehari-harinya diisi oleh suara mengaji firman berbeda getaran dan rasanya dengan rumah yang dididik oleh suara anjing atau musik-musik serba duniawi. Demikian juga apabila di lubang telinga seseorang yang berbuat dosa kita kirimkan vibrasi firman Allah terus-menerus, para Malaikat dengan sendirinya akan bertugas untuk melaksanakan efek logisnya menuju perbaikan.

Di Jakarta saya sering iseng-iseng omong kepada teman-teman bahwa setiap hirupan napas saya di kota metropolitan ini merupakan defisit spiritual-kosmologis. Kenapa?

Kalau di hati seseorang tergetar suatu niat jahat misalnya untuk menipu, merampok atau menyembah kefanaan dunia, maka sel-sel udara yang ia hisap akan berbeda dengan yang ia hembuskan. Udara yang dihembuskannya sudah mengandung muatan gelombang negatif tertentu. Apalagi jika gelombang itu bukan sekadar berupa itikad di dalam hati, tapi telah merupakan perbuatan-perbuatan nyata.

Dan akan lebih parah lagi apabila pekeriaan sehari-hari udara yang dianugerahkan oleh Allah ini diisi oleh sistem-sistem dan mekanisme ketidakadilan, penindasan atau kebobrokan. Maka udara yang kita hisap sangat potensial untuk menularkannya kepada kita melalui muatan-muatannya, getaran dan resonansinya.

Sesudah melewati jarak waktu tertentu, kita akan dengan sendirinya tuning in kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut.
Di manakah ada tersisa tempat yang tidak membuat kita tuning in dosa-dosa, riba-riba, haram-haram?.

Setiap saat orang-orang di sekitar kita berkata: "Mencari uang haram saja susah, apalagi yang halal!"
Allah tidak menuntut kita putih bersih tatkala kita berada di tengah lautan yang kotor kumuh dan busuk aimya. Juga di tengah arus yang kuat, kita tidak dituntut untuk mampu melawannya, sebab untuk tegak bertahan saja pun sudah amat terpuji. Kalau kita shalat ratusan rekaat sehari karena kita adalah anggota masyarakat Negeri Madinah yang baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur di jaman Rasulullah.

Tapi kalau Shalat lima waktu kita bisa lengkap plus wirid sekian jam saja sambil jalan-jalan di tengah peradaban maksiat abad 20, itu sudah luar biasa. Atau uang kita hanya seribu perak, kita nafkahkan sembilan ratus perak: Itu berpahala lebih besar dibanding tetangga yang menafkahkan sepuluh ribu perak dari sepuluh juta perak uangnya.

Kalau burung-burung bisa terbang, itu normal. Tapi kalau tikus melayang-layang di udara, itu luar biasa namanya. Maka mahasiswi kita di kota dingin tak perlu meratap, melainkan mensyukuri upaya-upaya perbaikannya yang tak inengenal kata stop.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

No comments:

Post a Comment